Cerita membuatku hidup di dunia mimpi yang penuh warna

Sambil menahan sakit di kaki kirinya akibat tendangan si orang Minang, Bripka Ngatimin merangkak bangun. Sekilas dia melirik si orang Cina yang tadi terlempar akibat tendangannya sudah berdiri bersiaga di pintu di belakangnya bersama dengan temannya itu. Meskipun mereka bertiga tetapi sepertinya mereka cukup jantan dan tidak tertarik mengeroyoknya.

Si orang Minang berdiri saja, santai menunggu sambil tetap dengan gaya cengar cengirnya yang memuakkan.

Sebenarnya dari awal Bripka Ngatimin sudah grogi dengan si orang Minang ini. Dari caranya bersiap tadi, Bripka Ngatimin menduga bahwa orang ini menguasai Silek Tuo, salah satu aliran silat tertua di Sumatera Barat. Bripka Ngatimin pernah mengunjungi Sumatera Barat dan pernah pula berdiskusi dengan beberapa Guru Gadang (guru besar) aliran silat di sana.

Dengan hati-hati Bripka Ngatmin berdiri dan bersiap. Dia menyiapkan diri dengan mengambil sikap siaga Kumite ala Gyukosinkai yang diistilahkan dengan Sosonokame, kaki kiri di depan, berat badan ditumpu pada kaki belakang dan kedua tangan berada di depan diangkat setinggi bahu.

“Heh heh heh … Waang tau Karate yo? (kamu mengerti Karate ya)” kata si Orang Minang.

“Hmmhh …” geram Bripka Ngatimin. “Silek Tuo, bukan?” tuduhnya tidak kalah gaya.

“Jeleh lo deang Silek Tuo … (tahu apa kamu dengan Silek Tuo …)” sinis jawab si orang Minang. “Iko Kumango lai jaleh deang (ini Kumango, tahu gak kamu),” terangnya lebih lanjut.

Perlahan-lahan kedua tangan si orang Minang bersilang di depan dada. Setelah diam beberapa detik, mendadak seperti menari, dengan tubuh agak miring ke kanan, tangan kirinya merentang mengibas ke arah lawannya seperti meminta sedangkan tangan kanannya menepuk paha kanan.

Berdasarkan pengalaman tadi, Bripka Ngatimin masih menunggu karena dia yakin bahwa apa yang dilakukan oleh si orang Minang adalah gerakan pancingan saja. Dan memang benar mendadak kaki kiri si orang Minang menjulur ke depan ke arah pinggang Bripka Ngatimin dalam bentuk suatu tendangan melingkar.

Bripka Ngatimin segera menangkis tendangan itu dengan tangan kanannya. Sikutnya sedikit diturunkan dan kaki kirinya sudah siap untuk mengirim tendangan balasan ke penyerangnya.

Tetapi ternyata tenaga tendangan itu luar biasa kuatnya. Tubuh Bripka Ngatimin sampai terhuyung ke kiri, sehingga dia tidak sempat melakukan serangan balasan.

Si orang Minang sepertinya sudah memperhitungkan apa yang direncanakan oleh Bripka Ngatimin. Karena itu ketika kakinya tertangkis, dan lawanya agak terhuyung, segera serangannya berlanjut tanpa memberi kesempatan bernapas pada lawannya. Hanya dengan sedikit ancang-ancang, kembali tendangan kaki kiri dilontarkan sejajar dengan bahu Bripka Ngatimin.

Dalam teori Karate, tidak ada gerak untuk menghindar, demikian juga yang terjadi dengan Bripka Ngatimin. Meskipun dia sudah terhuyung, secara reflek kembali dia menangkis tendangan ke arah bahu tersebut. Tetapi ternyata meskipun dengan ancang-ancang yang pendek, tendangan itu tetap membawa tenaga yang luar biasa. Kali ini dia bukan hanya terhuyung, bahkan terpelanting ke kiri, dan terguling ke arah meja dapur.

Tetapi sebenarnya Bripka Ngatimin memang bermaksud membiarkan saja tubuhnya terpelanting. Karena dengan demikian dia memiliki ketika untuk mempersiapkan serangan balasan. Ketika tubuhnya terguling itu tangan kanannya begerak ke belakang pinggang untuk meraih senjatanya.

Dalam posisi berguling di lantai, Bripka Ngatimin membidik si orang Minang dan menarik picu senjatanya.

Mabuk kemenangan, si orang Minang ternyata tidak waspada dengan gerakan Bripka Ngatimin. Tembakan Bripka Ngatimin menghantam bahu kanannya. Tubuhnya agak terhuyung ke kiri akibat terkejut dan juga akibat efek dari tembakan tersebut. Tetapi dengan sigap, dengan suatu lompatan ringan seperti harimau, dia berguling ke arah pintu belakang kavetaria untuk menghindari tembakan berikutnya dari Bripka Ngatimin.

Kedua orang Cina yang berdiri berjaga di pintu yang membatasi dapur dengan ruang kavetaria juga terkejut dengan perkembangan yang terjadi. Keduanya segera merunduk berlindung di sisi kiri kanan tembok yang membatasi kavetaria dan dapur. Perlahan-lahan mereka pun mencabut senjatanya masing-masing.

Setelah berhasil melukai si orang Minang, Bripka Ngatimin tidak buru-buru bertindak lebih lanjut. Perlahan dia merapat ke tembok dapur dengan senjata siap ditembakkan, dan mencoba menggambar situasi di dalam kavetaria di mana kedua orang Cina tadi berada. Dia harus bertindak cepat karena dia sekarang terkepung dari dua sisi. Di belakang ada si orang Minang yang terluka dan mungkin masih berbahaya, sedangkan di dalam kavetaria sendiri ada dua orang Cina yang siap untuk membalaskan sakit hati si orang Minang.

Dor!

Bripka Ngatimin segera menembak lampu penerangan dapur sehingga dapur itu sekarang gelap gulita. Dengan demikian, dia berada di tempat gelap sedangkan lawannya berada di tempat terang. Tentu saja hal ini menguntungkannya dan menyulitkan kedua orang Cina yang berada di dalam kavetaria untuk menembak ke arahnya.

Kedua orang Cina itu pun bukan orang bodoh, bahkan mereka sebenarnya sangat berpengalaman. Masalahnya tadi mereka menganggap remeh korbannya ini, sehingga sekarang mereka menghadapi masalah.

Salah seorang dari mereka segera memberi tanda pada temannya untuk mengalihkan perhatian Bripka Ngatimin.

Mula-mula dia berdiri perlahan, dan memadamkan lampu kavetaria. Dengan demikian kondisi kembali sama kuat, di mana mereka sama-sama berada di tempat gelap.

Setelah itu dia merangkak ke arah meja-meja dan kursi-kursi kavetaria dan mulai membuat kegaduhan-kegaduhan. Salah satu aksinya adalah mengangkat kursi dan melemparkan ke dalam dapur.

Gubraak!

Dor! Dor! Kembali Bripka Ngatimin menembak karena terkejut akibat keributan yang ditumbulkan oleh lemparan kursi dari kavetaria ke dapur.

“He he he, lu olang cuman punya paling banyak enam pelulu lagi ooo” kata si Cina yang menjaga di pintu dapur sebagai langkah perang urat saraf.

(Berambung)

September 25th, 2010 at 09:33 and tagged  | Comments & Trackbacks (6) | Permalink